
SPORTGAME. Empat tahun setelah peristiwa tragis di akhir The Last of Us, dunia pasca-apokaliptik ciptaan Naughty Dog kembali membuka lembaran baru lewat The Last of Us Part II. Game ini tidak hanya memperluas kisah klasik antara Joel dan Ellie, tetapi juga menelusuri sisi gelap manusia yang terjerat dalam lingkaran kebencian dan kehilangan.
Dengan pengarahan dari Neil Druckmann, sekuel ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar petualangan ia adalah eksplorasi emosional tentang bagaimana cinta dan dendam dapat mengubah manusia menjadi sosok yang sama sekali berbeda.
Awal yang Tenang Sebelum Badai
Setelah insiden di rumah sakit Fireflies, Joel dan Ellie menetap di pemukiman aman bernama Jackson, hidup berdampingan dengan Tommy dan komunitas baru yang damai. Namun, di balik keseharian itu, ada rahasia besar yang membayangi Joel. Ia menyembunyikan kebenaran tentang vaksin Cordyceps dan kematian para Fireflies dari Ellie.
Saat akhirnya Ellie mengetahui bahwa Joel telah membunuh banyak orang demi menyelamatkannya termasuk sang dokter yang berpotensi menciptakan obat penyembuh hubungannya dengan Joel hancur. Ia merasa dikhianati oleh orang yang selama ini dianggap sebagai ayahnya sendiri.
Namun waktu tak memberi kesempatan bagi keduanya untuk memperbaiki segalanya. Dalam perjalanan patroli, Joel dan Tommy bertemu seorang perempuan asing bernama Abby Anderson, yang tanpa mereka sadari menyimpan dendam mendalam. Tak lama kemudian, Abby membunuh Joel secara brutal membuka babak baru kisah penuh luka dan amarah yang menjadi inti dari The Last of Us Part II.
Ellie, Dendam yang Menggerogoti Hati
Kematian Joel meninggalkan lubang besar dalam jiwa Ellie. Bersama sahabat sekaligus kekasihnya, Dina, ia berangkat ke Seattle untuk memburu Abby dan kelompok militernya, Washington Liberation Front (WLF). Setiap langkahnya di kota yang porak-poranda adalah perjalanan menuju kehancuran moral. Ellie menjadi sosok yang semakin keras dan gelap, memburu lawan-lawannya tanpa ampun.
Namun di balik semua itu, bayangan Joel terus menghantui. Setiap darah yang ia tumpahkan hanya membuat rasa bersalah semakin kuat. Di sela-sela kejaran, Ellie memainkan gitar peninggalan Joel — satu-satunya kenangan yang masih membuatnya merasa manusia.
Dina, yang kemudian diketahui tengah mengandung anak Jesse, berusaha menahan Ellie agar berhenti. Tapi dendam sudah menjadi candu; Ellie tak bisa berhenti sebelum semuanya berakhir. Namun, seperti pisau bermata dua, balas dendam tak pernah membawa kemenangan sejati hanya kehampaan yang lebih dalam.
Abby Dari Kebencian Menuju Penebusan
Setengah permainan kemudian, sudut pandang berpindah ke Abby, perempuan yang membunuh Joel. Pemain diajak melihat sisi lain dari cerita bahwa di balik perbuatannya, ada alasan yang lahir dari kehilangan yang sama menyakitkannya. Joel telah membunuh ayah Abby, Dr. Jerry Anderson, ilmuwan Fireflies yang sedang berusaha menciptakan vaksin dari tubuh Ellie.
Setelah berhasil membalas dendam, Abby tak merasa lega. Ia justru diliputi kehampaan dan rasa bersalah. Dalam upayanya mencari arti baru dalam hidup, ia bertemu dua anak dari kelompok Seraphites, Lev dan Yara, yang menjadi pelarian dari ajaran sesat mereka. Hubungan Abby dengan Lev menjadi titik balik emosional: ia belajar kembali tentang empati, kasih sayang, dan makna pengampunan.
Narasi Abby menjadi cermin bagi Ellie dua wanita yang sama-sama terluka, tetapi memilih jalan yang berbeda untuk menghadapi masa lalu. Naughty Dog menampilkan kedua sisi ini dengan penuh detail, memaksa pemain memahami bahwa di dunia The Last of Us, tidak ada “pahlawan” atau “penjahat” yang sejati.
Santa Barbara, Menyadari Bahwa Dendam Tak Pernah Selesai
Beberapa bulan kemudian, Ellie hidup di sebuah peternakan bersama Dina dan bayi kecil JJ. Sekilas, semuanya tampak damai namun trauma masa lalu terus mengusiknya. Dalam tidurnya, Ellie masih mendengar jeritan Joel dan terbayang wajah Abby. Saat Tommy datang membawa kabar bahwa Abby terlihat di Santa Barbara, Ellie tidak mampu menahan diri. Ia memutuskan pergi seorang diri, meskipun Dina memohon agar ia tetap tinggal.
Di Santa Barbara, Ellie menemukan Abby dan Lev yang ditawan kelompok kejam bernama Rattlers. Setelah membebaskan mereka, Ellie menantang Abby dalam duel terakhir di tepi pantai. Pertarungan berlangsung brutal, menyakitkan, dan nyaris tak manusiawi. Namun ketika kesempatan membunuh akhirnya datang, Ellie berhenti. Dalam ingatannya, muncul bayangan Joel bukan saat ia mati, melainkan ketika tersenyum dan memaafkannya di masa lalu.
Dengan air mata mengalir, Ellie melepaskan Abby dan Lev, menyadari bahwa mengakhiri hidup Abby tak akan membawa ketenangan. Ia kehilangan dua jarinya, simbol fisik dari luka batin yang takkan pernah pulih sepenuhnya.
Ketika Pengampunan Menjadi Bentuk Terakhir dari Cinta
The Last of Us Part II adalah perjalanan emosional yang mengguncang hati. Melalui Ellie dan Abby, pemain diajak merenungkan makna kehilangan, dendam, dan pengampunan. Kedua karakter sama-sama hancur oleh kebencian, namun hanya satu yang akhirnya berani untuk melepaskan.
Naughty Dog tak sekadar menulis kisah tentang dunia kiamat mereka menulis kisah tentang manusia yang mencoba bertahan, mencintai, dan memaafkan dalam dunia yang tak lagi mengenal belas kasih. Di akhir permainan, Ellie mungkin kehilangan banyak hal: Joel, dua jarinya, dan bahkan rumahnya. Tapi ia menemukan sesuatu yang lebih berharga kebebasan dari rantai amarah yang selama ini menahannya. Dan mungkin, di dunia yang sudah hancur ini, itulah bentuk kemenangan yang paling manusiawi.