
SPORTGAME. Dalam dunia game yang terus bergerak maju, hanya sedikit sutradara yang mampu meninggalkan jejak kuat seperti Katsura Hashino, otak kreatif di balik beberapa judul JRPG paling berpengaruh. Namanya identik dengan seri Persona, sebuah franchise yang bukan hanya sukses secara komersial, tetapi juga menjadi tolok ukur bagaimana JRPG modern memadukan gaya visual, narasi, dan sistem permainan yang khas. Kini, Hashino kembali membawa gagasan yang tak kalah ambisius, mendefinisikan era baru JRPG, yang ia sebut sebagai “JRPG 3.0.”
Gagasan ini ia ungkapkan dalam sebuah panel diskusi di ajang G-Star 2025 di Korea. Sederhana dalam penyampaian, namun besar dalam makna. Ia menggambarkan JRPG saat ini sebagai genre yang sedang berdiri di persimpangan antara tradisi, ekspektasi pemain, dan kebutuhan untuk terus relevan di tengah persaingan global. Di titik inilah, Hashino melihat perlunya “pembaruan generasi” untuk genre yang telah berusia puluhan tahun tersebut.
Namun sebelum membahas apa yang ia bayangkan untuk masa depan, Hashino membawa pendengar untuk melihat gambaran besar sejarah genre ini.
Mengingat Kembali Dua Era JRPG Sebelumnya
Dalam penjelasannya, Hashino membagi evolusi JRPG ke dalam dua fase yang sudah dilewati:
- JRPG 1.0 — Akar dan Pondasi
Era ini mewakili masa ketika JRPG sedang membangun identitasnya. Grafis masih sederhana, dialog sering kali terbatas, dunia game tidak sebesar sekarang, tetapi di sinilah roh JRPG tercipta. Pemain jatuh cinta pada alur cerita yang menyentuh, sistem pertarungan turn-based yang strategis, dan dunia penuh fantasi yang menyenangkan untuk dijelajahi.
Hashino menggambarkan era ini sebagai masa yang sangat kreatif, sekaligus memperkenalkan struktur klasik JRPG yang menjadi template bagi generasi berikutnya. - JRPG 2.0 — Transformasi Menuju Modern
Fase ini mencerminkan evolusi JRPG dalam dua dekade terakhir. Para pengembang berfokus pada grafis yang lebih detail, kualitas penyampaian cerita yang lebih matang, dan gameplay yang lebih fleksibel. Teknologi yang berkembang pesat memungkinkan dunia lebih besar, karakter lebih ekspresif, dan sistem pertarungan yang tidak lagi kaku.
Di era ini pula JRPG mulai memadukan elemen modern seperti aksi real-time, narasi bercabang, serta presentasi sinematik. Banyak game yang berusaha menyesuaikan diri dengan standar global, bukan hanya pasar lokal.
Namun menurut Hashino, meski era 2.0 ini sudah sangat maju, JRPG masih belum mencapai potensi maksimalnya.
Lalu Apa Itu JRPG 3.0?
Hashino menyebut bahwa istilah tersebut bukan sekadar label keren untuk promosi. JRPG 3.0 menurutnya adalah upaya untuk membangun struktur baru, cara baru bercerita, dan pendekatan baru dalam menyampaikan pengalaman bermain JRPG.
Menariknya, ia mengakui bahwa JRPG 3.0 belum memiliki bentuk final. Konsepnya masih cair sebuah tujuan yang sedang ia dan timnya coba wujudkan. Namun dari penjelasannya, beberapa prinsip bisa dipahami:
- JRPG Harus Lebih Imersif Secara Presentasi
Bukan hanya soal grafis lebih detail, tetapi bagaimana dunia dan cerita bisa membuat pemain merasa lebih terlibat. Presentasi yang lebih sinematik, dunia yang lebih organik, dan desain karakter yang lebih hidup menjadi bagian dari visi tersebut. - Struktur Game Perlu Direvisi
Hashino menyinggung bahwa banyak JRPG saat ini masih terlalu bergantung pada formula lama yang sudah dipakai selama puluhan tahun. JRPG 3.0 akan menantang pola ini, membangun struktur cerita dan alur permainan yang tidak lagi terpaku pada pola klasik. - Menghadirkan Sensasi Bermain yang Baru
Menurutnya, permainan harus mampu menghadirkan pengalaman yang segar, bahkan bagi pemain yang telah puluhan tahun bermain JRPG. Elemen psikologis, sosial, hubungan antar karakter, hingga cara pemain memengaruhi dunia game bisa menjadi fokus baru. - Tetap Menjaga Identitas JRPG
Hashino menegaskan bahwa tujuan ini bukan untuk “menghapus tradisi,” melainkan memperluasnya. JRPG tetap harus memunculkan rasa fantasi, petualangan, dan kedalaman cerita yang menjadi ciri khasnya.
Dengan kata lain, JRPG 3.0 bukan sekadar versi baru ini adalah redefinisi.
Bagaimana Komunitas Gamer Melihat Gagasan Ini?
Meskipun konsep JRPG 3.0 belum jelas wujudnya, banyak penggemar yang menyambut antusias. Bagi para pemain lama, gagasan ini menjadi harapan bahwa JRPG tidak akan terjebak dalam nostalgia berlebihan. Sedangkan bagi pemain generasi baru, gagasan ini menunjukkan bahwa JRPG masih berkomitmen untuk terus berkembang dan bersaing dengan genre besar lainnya.
Sebagian penggemar percaya bahwa jika ada sosok yang mampu memimpin perubahan, Hashino termasuk salah satunya. Pengalamannya menata ulang formula JRPG lewat seri Persona dan proyek terbarunya menunjukkan bahwa ia tidak takut bereksperimen dengan konsep baru.
Tantangan Menuju JRPG 3.0
Namun perjalanan menuju era baru tentu tidak mudah. Inovasi selalu dihadapkan pada risiko: apakah pemain siap menerima perubahan besar? Apakah elemen klasik JRPG bisa digabung dengan eksperimen modern tanpa menghilangkan esensi aslinya? Bagaimana mempertahankan pasar lama sambil menarik pemain baru?
Hashino memang optimis, tetapi ia menyadari bahwa genre ini harus berkembang dengan hati-hati bukan sekadar mengikuti tren global, tetapi menemukan jalan evolusi yang tetap mempertahankan jati diri JRPG.
Masa Depan JRPG Ada di Ujung Perubahan
Dengan gagasan JRPG 3.0, Katsura Hashino tidak hanya berbicara tentang game yang ia buat, tetapi juga tentang masa depan seluruh genre. Visi ini menjadi undangan bagi para pengembang lainnya untuk ikut memikirkan bagaimana JRPG dapat tumbuh, berevolusi, dan memberikan pengalaman baru bagi jutaan pemain.
JRPG telah mengalami banyak perubahan sepanjang sejarahnya, tetapi inti dari genre ini cerita kuat, dunia fantasi yang menawan, dan karakter penuh kepribadian tetap menjadi fondasi. Hashino ingin membawa semua itu ke level berikutnya.
Dan jika ambisi ini terlaksana, mungkin kita akan melihat era baru yang tidak hanya memperbarui JRPG, tetapi mendefinisikan ulang apa arti bermain game RPG dari Jepang.